Myujikku

Kamis, 28 November 2013

(FanFiction) Guardian Angel (1/3)


Tittle               : Guardian Angel (1/3)
Categories    : MultiChapter
Genre            : Romance, Angst, Friendship
Rating            : PG 13
Theme Song : Kyuh Yun-Hope is A Dream That Doesn’t Sleep
Author           : Hikari Natsumi
Cast                : Kota Yabu (Main character), Michi Fujiro (Main character), Kei Inoo, Daiki Arioka, Hikaru Yaotome, Yuya Takaki, Yuuri Yabu (OC), Risako Nami (OC), Yabu no Otousan to Okaasan.
Synopsis        :

The flowers cut and brought inside
Black cars in a single line
Your family in suits and ties
And you’re free

          Yabu berdiri jauh dari pemakaman kekasihnya. Berharap hari itu adalah sebuah drama yang akan segera berakhir. “Terimakasih Michi. Aishiteru. Aishiteruyo.”
(flashback)
          “Yabu..” panggil gadis cantik yang terbaring lemah di atas kasur yang berbalut cover bed putih.
          “Michi.. kau sudah sadar? Syukurlah. Sebentar akan kupanggilkan dokter.” Saat yabu hendak beranjak dari tempat duduknya, Michi menarik lengannya. “Doushitano?”
          “Jangan pergi. Temani aku sebentar saja Yabu.”
          Yabu tersenyum simpul dan mengusap lembut kening Michi. “Baiklah..” Yabu kembali duduk di samping tempat tidur Michi.
          “Yabu...”
          “Hmm”
          “Kufikir..semua ini akan sia-sia.”
          “Apa yang kau maksud sayang?” Yabu menatap kekasihnya dengan penuh pertanyaan.
          “Sebelumnya.. terimakasih. Karena kau telah menemaniku selama ini. Terimakasih karena kau telah menjadi malaikat pelindungku selama ini. Terimakasih telah menghiasi hidupku Yabu.” Michi tersenyum dan memandangi wajah kekasihnya yang masih kebingungan.
          “Tidak perlu berterimakasih. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai calon suamimu.”
          Michi terlihat diam sesaat. “Kau akan menyesal Yabu.”
          “Menyesal.. nande?”
          “Karena kau telah memilih wanita lemah dan tidak berguna sepertiku. Aku tidak punya banyak waktu lagi untuk hidup di dunia yang keras ini.” Raut wajah Michi berubah.. bagi Yabu, hanya dengan perubahan raut wajah kekasihnya saja, itu dapat membuat hatinya sakit.
          Yabu menggenggam tangan Michi dan mengecupnya. “Ssstt.. jangan berkata seperti itu. Aku, Kota Yabu. Bersumpah akan selalu berada di samping Michi Kawaguchi dalam keadaan suka maupun duka. Selalu menjaga Michi, selalu melindunginya dari apapun. Aku bersumpah, aku rela mati untuk melindungi Michi, untuk mengembangkan senyum Michi, untuk membuat Michi bahagia selamanya. Aku bersumpah akan menjadi ayah yang baik bagi anak-anakku dan Michi kelak. Akan menjadi suami yang bertanggung jawab dan tidak akan membiarkan keluarganya dalam kesusahan. Aku bersumpah akan hidup bersama Michi hingga maut yang memisahkan.” Michi yang mendengar sumpah Yabupun tidak kuasa menghalau air matanya. Yabu yang melihat kekasihnya itu hanya bisa tersenyum bahagia dan memeluk Michi dengan erat seakan tidak ingin membiarkan kematian untuk mengambil kekasihnya.
          “Arigatou Yabu.. hiks,, hiks,,”
          “Douita honey..” Yabu mengusap lembut kepala kekasihnya dan mengecup keningnya.
          11 menit lamanya mereka berpelukan. Yabu mulai merasakan kejanggalan. Pelukan Michi tak seerat sebelumnya. Dan tubuhnya sangat lemas.
          “Michi!” panggil Yabu. “Sayang.. Michi.. kau kenapa?” Yabu melepaskan pelukannya dan melihat kekasihnya mengeluarkan darah pada hidungnya. “Oh Kamisama Michiiii bangun Michi.. Michi bangun sayang. Jangan bercanda! Michi bangun!” Yabu menekan tombol darurat yang berada di meja dekat Tempat tidur.
          “Michi banguuunn!!! Bangun sayang! Ayo bangunlah kumohon..” Yabu menggoyang tubuh kekasihnya berkali-kali.
          Tidak lama kemudian, dokterpun segera masuk ke dalam ruang ICU yang ditempati Michi. “Tuan tolong keluar sebentar!” pinta seorang suster yang membawa berbagai alat dokter tersebut.
          “Tapi suster.. aku harus menunggunya.”
          “Tuan, saya mohon keluar sebentar! Biar dokter memeriksanya.”
          Yabu menghampiri dokter yang sedang memakai stetoskop “Dokter, tolong selamatkan tunangan saya dokter! Tolong dok!”
          “Akan saya usahakan Tuan. Silahkan tunggu sebentar di luar.”
          Yabupun keluar dari ruang ICU. Dengan langkah gontai dia menuju ruang tunggu. Yabu terduduk lesu. Kakinya yang selama ini membawanya kemana-mana seakan tidak berfungsi, fikirannya berkecamuk tak tentu arah, isakannya mulai terdengar, isakan yang dalam dan menyakitkan.
          “Hiks.. hiks.. hiks.. Michi.. bertahanlah sayang! Hiks.. hiks.. Kamisama aku mohon jangan ambil nyawanya. Kamisama aku mohon jangan ambil nyawanya.. hiks.. hiks.. Kamisama Onegaishimasu. Onegaishimasu. Onegai.. entah kenapa di saat yang memilukan itu, dia merasakan rasa sakit di bagian perutnya. Yabu meringis kesakitan entah ada apa dengan dirinya. “Arrghh itai..”ucapnya sambil memegangi perutnya. Rasanya ada sesuatu yang ditusuk tusukkan ke perutnya. Kepalanya berdenyut, cengkraman tangan pada bajunya semakin kuat, pandangannya kabur dan semua berputar, Yabu memejamkan matanya sekuat mungkin. Dia membuka matanya dan segalanyapun menjadi gelap.
          Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan Michi. Dokter itu mencari-cari Yabu yang ternyata tertidur dengan pipi basah dan wajah yang memilukan di samping deretan kursi untuk menunggu pasien. Dokter itu menghampiri Yabu yang terkulai lemas. ‘Kasian sekali pemuda ini’ batin sang dokter.
          “Tuan.. bangunlah tuan!” dokter tersebut menyentuh pundak Yabu. Namun, tidak ada balasan sama sekali. “Tuan.. bangun tuan!” dokter itu berjongkok tepat di depan Yabu dan menyentuh wajah pemuda itu. Ekspresi datar sang dokter langsung berubah seketika saat dia merasakan ada yang tidak beres dengan pemuda itu.
          “Suster! Cepat kemari suster! Bawakan kursi roda!” dokter itu berteriak dengan nada khawatir.
          Beberapa saat kemudian datang beberapa suster yang segera membawa Yabu ke ruang UGD.
                                  *****SKIP*****
          Yabu membuka perlahan matanya, merasakan masih ada sesuatu yang menusuk perutnya walaupun tidak sesakit yang tadi. Sinar matahari pagi yang telah membangunkannya. Dia melihat sekeliling dan menemukan sebuah buket bunga dan juga kakak perempuannya yang tertidur pulas di atas sofa.
          ‘Apa yang terjadi?’ tanyanya dalam hati.
          “Uuunnggghhh...” Yabu menoleh ke arah kakaknya yang terbangun. Tatapannya sayu.
          “Kouchan kau sudah bangun.” Kakak Yabu segera mmenghampirinya. “Syukurlah kau sudah sadar Yabu. Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Dia menggenggam tangan adiknya sangat erat. Hangat, itulah yang dirasakan Yabu.
          “Oneechan.. ada apa denganku? Sejak kapan aku terbaring di sini?”
          “Sudah tiga hari kau tak sadarkan diri Kouchan. Kau pingsan saat berada di ruang tunggu rumah sakit.”
          Yabu terdiam sejenak. “Untuk apa aku berada di ruang tunggu rumah sakit oneechan?” Yabu menatap kakaknya dengan penuh kebingungan.

          Kakaknya tersenyum kecil “Tentu saja untuk Michi. Siapa lagi. Kau yang selalu bersikeras untuk menjaganya, bukan? Apa kau lupa?”
          “Dare? Michi? Dia... siapa?”
          Yuuri, kakak Yabu, benar-benar terkejut dengan pertanyaan adiknya. “Kau tidak kenal dengan Michi? Dia tunanganmu Yabu! Apa saat kau pingsan ada yang mengotak-atik otakmu?”
          “Tunangan? Kapan aku mempunyai tunangan oneechan? Bukannya otousan mau menjodohkanku?”
          “Kau sakit ya Kou?” Yuuri menyentuh dahi adiknya. “Kau tidak demam. Apa kau salah makan? Jangan-jangan kau jajan sembarangan lagi ya sebelum pingsan? Kau menolak perjodohan itu Kouchan. Kau pergi dari rumah bersama Michi karena otousan tidak menyetujui hubungan kalian. Kami sekeluarga telah mencarimu kemana-mana. Sampai suatu hari, okaasan yang sekarang berada di Mexico bersama otousan, mendapat telfon dari rumah sakit ini dan mengabarkan bahwa kau pingsan dan sakit keras. Mereka langsung menghubungiku dan mengatakan tentang keadaanmu.”
          Yabu masih terdiam. Tidak paham dengan apa yang baru saja dikatakan kakaknya.
          “Kau tidak hilang ingatankan? Michi adalah gadis yang sangat kau cintai. Michi adalah gadis yang menderita kelainan pada jantungnya. Sebab itulah otousan tidak menyetujui hubungan kalian.” Raut wajah Yuuri semakin khawatir.
          Yabu mencoba mengingat siapa gadis yang bernama Michi tersebut. Namun tiba-tiba dia merasakan sakit di kepalanya. “Arrghh itai.. itai..” Yabu meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
          “Kouchan! Doushitamashita? Kau kenapa?” Yuuri panik, tentu saja, dia panik setengah mati dan segera memencet tombol darurat. “Kouchan kau kenapa?”
          Beberapa saat kemudian dokter datang, “Suster tolong ambilkan obat penenang!”
          “Kouchan.. hiks.. kau kenapa Kouchan.. hiks..hiks... Kouchan!” tangis Yuuri pecah.
          Dokter segera menyuntikkan obat penenang ke dalam tubuh Yabu. Obat penenang itu bekerja sangat cepat, Yabupun langsung terhanyut dalam tidurnya.
          “Dokter.. ada apa dengan adik saya?” tanya Yuuri.
          “Kita bicarakan di luar saja nona!”
          Yuuri menatap wajah letih adiknya dan mengecup lembut kening adiknya.
          Di luar ruang UGD, dokter menjelaskan tentang keadaaan Yabu kepada Yuuri.
          “Apakah.. dia pernah terserang kanker sebelumnya?”
          “Ya dok. Dia pernah terserang kanker hati sebelumnya. Tapi, itu sudah lama sekali dan sudah sembuh.”
          Dokter tersebut terlihat berfikir sejenak. “Apakah dia mempunyai maag?”
          “Memangnya kenapa dok? Yah.. dia mempunyai maag, tapi itu maag ringan.”
          Dokter itu terlihat memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya. “Seperti yang duga. Tuan Yabu mengidap kanker hati. Dan kanker itu mulai menyerang otaknya.” Suara dokter itu melemah.
          “Tidak mungkin.” Yuuri menutup mulutnya untuk mencegah isakan tangisnya. “Bagaimana bisa dok? Bagaimana bisa?”
          “Kalau menurut saya,karena Tuan Yabu sering kelelahan dan maagnya sering kambuh, kanker itu kembali. Maag Tuan Yabu tidak dapat dikategorikan sebagai maag ringan lagi nona. Sehingga Maag tersebut menimbulkan kanker untuk kesekian kalinya. Dan karena kanker tersebut mulai menyerang otak, Tuan Yabu akan mengalami hilang ingatan ringan. Biasanya orang yang akan dilupakan adalah orang yang benar-benar sangat disayangi oleh pasien.”
          “Apakah ada cara untuk menyembuhkannya dok?”
          “Hanya ada satu nona, donor hati. Namun, sekarang ini sangatlah sulit untuk mencari seorang donor hati. Karena donor hati dapat menghilangkan nyawa pendonornya. Pihak rumah sakit akan ikut membantu nona untuk mencarikan donor hati yang tepat. saya ikut berduka atas hal ini. Saya permisi dulu nona!” dokter itupun pergi meninggalkan Yuuri yang hanya diam dalam isak tangisnya.
                          ******SKIP******
          Keesokan harinya, Yuuri mendatangi kamar Michi. Ketika dia membuka pintu, dia menyadari satu hal. Michi semakin terlihat berbeda. Aura yang dipancarkannya tak sebahagia yang dulu.
          “Michi.. ohisashiburi!”
          Michi melihat Yuuri yang berdiri di ambang pintu. “Yuuri Oneesan ohisashiburi desunee..silahkan masuk!”
          Yuuri tersenyum dan menghampiri Michi. “Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat semakin kurus Michi. Apakah kau jarang makan? Adikku tidak mengurusmu dengan baik ya?” canda Yuuri.
          “Chigau.. bukan karena itu oneesan. Yabu benar-benar telah merawatku dengan baik selama ini. Tapi aku heran, sudah 3 hari dia tidak menjengukku. Oneesan tidak akan mengambilnya pergikan?” Michi menatap Yuuri dengan tatapan khawatir.
          “Tenang Michi.. aku menyetujui hubungan kalian sejak awal. Aku sangaaaaaattt menyetujuinya. Kau tau, bahkan aku pernah menghayal aku sedang menggendong keponakanku.” Yuuri tersenyum. Namun, sinar matanya tetaplah redup.
          “Oneesan, ada apa datang kemari?”
“Aku ke sini untuk membicarakan tentang  keadaan Kouchan. Kuharap kau bisa menerima apa yang akan kukatakan.” Yuuri mulai bersikap serius. Jujur, dia tidak sanggup untuk mengatakan hal ini. Dia takut keadaan Michi akan semakin memburuk.
          “Yabu? Dia baik-baik sajakan oneesan?” tersirat kekhawatiran di cahaya mata Michi.
          Yuuri menghela nafas dengan beratnya. Mau tidak mau, dia harus mengatakannya. “Kouchan.. dia.. terserang kanker.”
          Suasana ruangan Michi hening seketika. “Kanker?!” suara Michi memecah keheningan. Yuuri menghela nafas berat dan menganggukkan kepalanya.
          Michi tersenyum pahit. Seakan tidak cukup cobaan yang dihadapinya. “Lalu? Bagaimana keadaannya?” Michi bertanya sedatar mungkin. Dia tidak ingin memperburuk keadannya. Yabu yang telah mengajarkannya bagaimana cara mengendalikan perasaan. Yabu telah mengajarkan banyak hal kepada Michi. Itulah yang sangat dikagumi Michi dari Yabu. Yabu telah mengajarkan banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan.
          “Kankernya.. hiks...” terdengar isakan kecil dari Yuuri.
          “Teruskan oneesan!” Michi sudah berlinangan air mata. Tapi, dia tetap berusaha untuk mengendalikan perasaanya.
          “Kankernya mulai menyebar ke otak. Dan...” Yuuri menghela nafas berat  untuk kesekian kalinya. “Hiks.. hiks.. dia mengalami hilang ingatan Michi.”
          Michi merasakan ada petir yang menyambar dirinya. Petir itu seakan menusuk langsung tepat pada jantungnya yang sekarang ini sedang susah payah dikendalikan oleh si pemilik. Petir itu menyerap seluruh tenaga Michi yang tersisa. Menghancurkan segala harapan yang telah dia bangun bersama Yabu selama ini. Air matanya tak terbendung lagi. Michi menangis dalam kebisuan. Dia menggenggam erat tangan yang lain, diletakkannya di depan dada.
          “Kouchan.. tidak mengingat apapun hiks.. tentang..dirimu Michi..hiks.. hiks.. gomen, gomen ne, gomen michi!”
          “Apa? Kamisama, kenapa kau melakukan ini? Kamisama kenapa kau melakukan ini pada orang yang aku cinta? Apakah Yabu melakukan kesalahan? Kamisama kenapa kau lakukan ini?” Michi berteriak sejadi-jadinya. “Hiks.. hiks.. hiks.. Kamisama.. hentikan semua ini! Aku tidak kuat Kamisama.. apa kau belum puas membuat hidupku semenderita ini?”
          “Michi... jangan berkata seperti itu Michi! Hiks.. Michi..”
          “Nande? Kenapa aku tidak boleh berkata seperti itu? Hiks.. Kamisama tidak adil. Dia benar-benar tidak adil. Kenapa dia membuat hidupku semenderita ini oneesan? Hiks.. hiks.. Kamisama.. hentikan semua ini hiks.. hiks.. onegaishimasu!”
Yuuri memeluk tubuh Michi yang terguncang hebat. “Michi, jangan seperti ini!”
          “Oneesan.. apa yang harus kulakukan? Hiks.. hiks.. aku sangat mencintainya oneesan..” Michi membalas pelukan Yuuri dengan erat.
          Michi tidak habis pikir, apakah ada cobaan yang akan menimpanya lagi nanti? Kenapa Tuhan belum puas menguji dirinya? Sekarang ini, dia tidak peduli dengan kesehatannya. Dia meyakinkan dirinya bahwa dialah yang akan membantu malaikat pelindungnya itu sembuh. Sekalipun harus mempertaruhkan nyawanya, dia pasti akan rela. Asal Yabu bahagia, dia akan mengorbankan semua yang dimilikinya.

.
.
TBC

hehehe TBC dulu ya ^-^, comment please ^-^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar