Myujikku

Jumat, 04 Juli 2014

Fanfiction "NO REGRET LIFE" (2/?)


Tittle              : No Regret Life (2/... .)
Author            : Hikari Natsumi (aku ndiri)
Categories      : Multichapter
Rating             : PG 15 (nggak tau kaya’ beginian, tinggal tulis aja XD)
Genre              : Romance, Mystery, Angst, AU, Fluffy (nggak menjamin).
Cast                : Kota Yabu (HSJ), Kei Inoo (HSJ), Akayama Raikha (Rainukha Inoo), Hikari Natsumi (author ikut nampang), Ryutaro Morimoto (Hey! Say! JUMP) OC OC lainnya J
 Disclamer      : Kota Yabu, Kei Inoo, Ryutaro Morimoto milik Tuhan, bapaknya, emaknya, dan eyang Jojon. Setengah dari Kei punya Author (‘.’) *dibakar masa*, Akayama Raikha milik Tuhan, emak dan bapaknya. Hikari Natsumi milik Tuhan, emak dan bapaknya. OC OC juga milik Tuhan.
Synopsis         : datangnya sesuatu tak terduga yang membuat hidup pria bernama Kota Yabu ini menjadi lebih rumit. Kebingungan karena harus memilih adiknya (satu-satunya keluarga yang dimiliki) atau kekasihnya untuk ditinggalkan.

            PART 2!!!! Tetap aku ingatkan! WARNING 1 !! TYPO, kata-kata ancur, alur nggak jelas, cerita nggak merasuk di hati, penghayatan yang menyedihkan (ancur maksudnya),,, WARNING 2 kejang-kejang saat membaca karya awal yang masih berantakan. Hai.. douzoooo !! selamat membaca ^^

Tanggal 01 MEI
            “Kouchan!!”
            “Raichan?” bisik pemuda jangkung yang terbangun dari tidurnya.
            “Kouchan! Tasukete!”
            Pemuda itu membuka matanya dan melihat ke segala arah, dia bangkit dari tumpukan dedaunan kering yang sedaritadi ditidurinya. ‘Dimana ini?’ pikirnya.
“Kouchan?!”
Merasa seperti mendengar suara, pemuda itu langsung mencari darimana suara tersebut berasal. “Raichan?”
            “Kouchan!! Onegai! Tasukete! Tasukete kudasai!”
            “Raichan?!!” dia berlari kesegala arah, dan kembali memudarkan pandangannya. Namun, sejauh mata memandang yang dia lihat hanyalah pohon-pohon sakura yang lebat. Yabu kembali berlari dan meneriakkan sebuah nama. Dia berhenti di depan pintu yang tampak menyinarkan cahaya di sela-selanya. “Raichan?” Yabu membuka pintu itu dengan perlahan dan melihat tiga orang yang sama-sama memakai pakaian putih dan bercahaya. “Raichan?! Kemarilah!”
            “Kou..” muncul raut ketakutan dari sang pemilik suara. Matanya terlihat sembab, terlihat jelas terdapat bendungan kecil air mata di sana yang membuat mata gadis itu menjadi lebih indah, namun tidak untuk pria yang sekarang berdiri di depannya. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya sedikit terguncang karena isakan kecil yang dia keluarkan. Sedikit demi sedikit buliran air mata yang bening mulai turun ke pipinya.
            “Raichan?!” Yabu melangkahkan kakinya, mendekat dan mendekat. Namun,  ada kilatan cahaya yang tiba-tiba saja membuatnya terpental ke tanah. Buugghh!! “Arrgghh!”
            “Kou-nii..”
            Yabu mencengkram lengannya yang terasa sangat sakit, dan mendongakkan kepalanya. “Hikka?!”
            Hikari tersenyum dan melemparkan sebuah kalung ke arah Yabu. “Aku mau pinjam neechanku dulu ya!” Hikari mengenggam erat tangan Raikha dan orang yang ada di sebelah kirinya. “Niichan,, ikou!”
            Lelaki yang dimaksud Hikari mengembangkan senyumnya ke arah suara yang memanggilnya ‘niichan’ itu. Senyumnya mengatakan seperti apa yang dia inginkan, akan segera didapatkannya.
            “Sayonara!” ucap Raikha yang dalam sekejap telang hilang bersama Hikari dan Ryosuke.
            “Raichan! Raichaann!!! RAICHAAAANN!!!!!”
#Yabu POV
            “RAICHAAAANN!!!!!” aku bangkit dari tempat tidurku dengan nafas yang berat. ‘hanya mimpi!’ batinku. Tubuhku penuh dengan keringat, sampai baju dan rambutku terasa basah. Badanku terasa sakit semua. Kupegang kepalaku yang terasa pening. Apakah karena kelelahan? Aku beranjak dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi. Kumasukkan tubuhku ke dalam bathup yang telah berisi air hangat. Aahhh~!! Nyaman sekali. Kupejamkan mataku untuk merasakan sensasi air panas yang menyelimuti setiap inci dari kulitku. Kutenggelamkan kepalaku, mencoba untuk menghilangkan penat dalam pikiranku. Dan...... “Raichan?!!!” aku menyembulkan kepalaku dari air dan mengusap wajahku berkali-kali. Aku melihat wajah gadis yang kucintai di dalam bathup? “Aku benar-benar sudah gila!”.....................
            Kurapikan tempat tidurku yang terlihat sangat berantakan. “Apa yang terjadi padamu tadi malam Kou?” tanyaku pada diri sendiri. “Itai!! Sakiitt!!” tiba-tiba saja aku merasakan ada yang menusuk kakiku, kulihat ke bawah dan... “I..i..itu! kalung itu!”
#Author POV
            Yabu mengulurkan tangannya untuk mengambil benda yang melukai kakinya tadi. Tangannya bergetar dan pikirannya berkecamuk. ‘Hikka? Ini kalung yang diberikan Hikari dalam mimpiku. Tapi mana mungkin?’
Trust! Believe! My Future!
Trust in my way
Don't looking back
Reading the wind
Never give up
Taiyou wo tsukamu you ni
Kakageta kono te de
            Yabu tersadar dari lamunannya dan segera meraih ponsel yang ditaruhnya di atas meja tadi malam. “Moshi moshi”
            “KOTA YABU!!! Sampai kapan kau akan mengingkari janjimu??!!” teriak orang yang menelfon tadi.
            Yabu sedikit membuat jarak antara telinga dan telfonnya untuk menghindari rusaknya gendang telinga “Ma..maksudmu?”
            “Sebenarnya ada apa denganmu? Kau itu sudah seperti orang yang sedang dihantui saja!”
            “Aku memang sedang dihantui, Inoo.” Ucap Yabu dengan nada pelan yang seharusnya tidak dapat didengar oleh temannya.
            “HA? APA? Kau apa tadi? Dihantui?”
            “Eh, betsuni! Aku akan ke sana sekarang!” Yabu mematikan ponselnya dan segera merapikan tempat tidurnya lagi.
<<<<<........................................................................................>>>>>
            Seorang gadis berhenti tepat di depan sebuah kursi taman. “Inoo?!” ucap gadis itu kepada pria yang sedang menikmati buble teanya.
            Merasa namanya dipanggil, Kei mendongakkan kepalanya dan meninggalkan permainan ‘NOVA’ yang sedaritadi dimainkannya. “Raichan?! Kenapa kau ada di sini? Ah.. apa kau mau membeli beberapa snack di toko seberang sana?” terka Kei.
            Gadis itu memiringkan kepalanya. “Katanya kau mau menjaga Hikkachan di rumah sakit, lalu apa yang kau lakukan di sini?”
            Lelaki yang diajak bicara itupun ikut memiringkan kepalanya. “Justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu! Tadi kau bilang, kau sedang di rumah sakit, makanya aku ke sini untuk bertemu dengan Yabu.”
            “Apa maksud_”
            “HEI, KALIAN !!!”
            Mereka berdua mennoleh ke arah yang sama, terlihat Yabu yang sedang berlari ke arah mereka. “Gomen Inoo, aku telat!” pria jangkung itu berusaha mengatur nafasnya yang berat setelah berlari cukup jauh. “Raichan?!”
            “Kou? Kenapa kau berlari seperti itu?” Raikha menghampiri Yabu dan memberikan sebotol air putih. “Ini, minumlah!”
            “Arigatou” setelah selesai minum, Yabu menyeka keringat di dahinya. “Huh, melelahkan sekali! Tadi, saat aku berangkat ke sini, tiba-tiba mobilku berhenti dengan sendirinya.”
            “Mogo’?”
            “Bukan. Entahlah aku tidak tau. Mesinnya baik-baik saja dan bensinnya juga masih penuh. Tidak ada kesalahan sama sekali. Dan daripada  aku kena omelanmu, aku meninggalkan mobilku dan berlari ke sini. Ngomong-ngomong, kalau kalian berdua di sini, siapa yang menjaga Hikari?” Yabu duduk di samping Kei sambil menyeka keringat di lehernya.
            “Dia!” jawab Kei dan Raikha bersamaan. Kei menunjuk tepat di depan wajah Raikha, dan Raikha menunjuk tepat di depan hidung Kei. Hal itu cukup untuk membuat Yabu mengernyitkan dahinya.
            “Kenapa aku? Kau yang mengatakan akan menjaga Hikari!”
            “Tapi kau menelfonku dan mengatakan kalau kau sudah ada di rumah sakit!” sahut Kei tidak mau kalah.
            “Apa maksudmu? Aku tidak menelfonmu.” Kata Raikha sedikit emosi. “Kau yang berkata seperti itu kepadaku.”
            “Kapan aku mengatakannya?”
            “Kau memang tidak mengatakannya, tapi kau mengirimiku email!”
            “Aku tidak pernah mengirimimu email!_”
            “AAAAA YAMETE!!!!” teriak Yabu yang menerlentangkan tangannya ke arah Raikha dan Kei. “Apa maksud kalian? Kalau kalian tidak melakukannya lalu siapa?”
            “Aku yang melakukannya
            “Iya. Aku tau kau, tapi kau siapa?” tanya Yabu lagi.
            Kei dan Raichan berpandangan sejenak. “Dia bicara dengan siapa?” gumam mereka bersamaan.
            “Kenapa kalian diam?” kata Yabu setengah berteriak.
            “Kau bicara pada siapa Kou?”
            ‘Hah? Lalu tadi yang bicara siapa?’ batin Yabu.
            “Kenapa wajahmu tegang? Hei, kau kenapa?” tanya Kei yang masih memegangi buble tea-nya.
            Perlahan, tubuh Yabu menengok ke belakang. ‘Apa jangan-jangan...’ mata Yabu membulat sempurna saat mendapati Ryosuke yang tersenyum manis ke arahnya dan dengan cepatnya, sosok itu menghilang. Yabu segera berlari ke tempat dimana dia melihat Ryosuke dan terus mencari sosok itu disekelilingnya. Kei dan Raikha hanya saling menatap dalam kebingungan atas tingkah laku Yabu. Beberapa saat kemudian, dia kembali ke tempat Raikha dan Kei berdiri.
            “Cepat kembali ke rumah sakit! Ada sesuatu yang harus kulakukan.” Jelasnya dengan raut wajah khawatir.
            “Kou... kau kenapa?” Raichan menghampiri kekasihnya dan menggenggam erat tangannya. Dia menyadari ada hal yang tak beres.
             “Tenanglah! Semuanya akan berakhir dengan segera Raichan. Aku berjanji!” ucap Yabu sambil tersenyum, dia tidak ingin membuat Raikha khawatir. Kemudian, dia mendaratkan kecupan lembut di kening kekasihnya dan pergi ke tempat mobilnya diparkir. Kei yang melihat kepergian Yabu merasa ada sesuatu yang besar yang akan menimpa kekasihnya yang sekarang sedang terbaring di rumah sakit, langsung menarik tangan Raikha dan berlari bersama menuju rumah sakit.
            “Kenapa? Ada apa?” tanya Raikha yang sesekali menatap ke arah Kei dan jalanan tempat mereka berlari. Kei mengacuhkan pertanyaan Raikha dan lebih fokus untuk mempercepat langkah kakinya menuju rumah sakit.
Sementara itu, lelaki yang tadi mendapat bisikan ghoib dari si bontot terus berlari menuju tempat mobilnya tadi. ‘Apa jangan-jangan...’ . pikirannya berkecamuk, takut, sedih, bingung, khawatir, itulah yang ia rasakan. Setelah kurang lebih setengah jalan berlari, Yabu melihat mobilnya yang masih bertengger manis di tepi jalanan yang sepi. Dia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Setelah dirasa cukup, dia berlari kecil menuju mobilnya. Lama dia berlari, namun dia tidak kunjung sampai ke mobilnya. ‘kenapa jauh sekali, padahal tadi jaraknya dekat!’ keluhnya sampil menyeka peluh yang telah bercucuran dari tadi. Dia melanjutkan larinya, kali ini dia melangkahkan kakinya dengan cepat, namun setelah beberapa menit berlari, dia tetap belum bisa menjangkau mobilnya.
Dia berhenti sejenak karena hampir kehabisan nafas. “KKUUSSOOOOOOO!!!!!” dia berteriak dan terus berlari ke arah mobilnya yang MENURUTNYA masih tediam manis di sana. Beberapa menit kemudian, Yabu tersungkur di jalanan yang sepi tempat mobilnya diparkir dengan nafas terengah-engah, dengan wajah yang kusut pula. ‘Ini pasti kerjaan setan itu!’ ucapnya dalam hati. Yabu berusaha untuk bangkit, namun kakinya terasa sangat berat untuk digerakkan, dia menyerah. Yabu berusaha untuk duduk sambil memegangi kakinya yang mungkin sudah terserang pegal linu akut.
“SAMPAI KAPAN KAU AKAN MENYIKSAKU?” teriak Yabu yang sudah mulai habis kesabarannya. Dia tahu, semua ini kerjaan setan yang selalu membuntutinya. Tiba-tiba ‘pak, pak, pak!!’ terdengar suara tepukan tangan yang dirasa mengejeknya.
“Padahal aku hanya bermain dengan cara ringan. Tapi, kenapa kau langsung menyerah begitu saja? Kau begitu lemah! Jika kau lemah seperti ini, bagaimana kau bisa melindungi Raichan? Tsk tsk tsk adikku benar-benar memilih orang yang salah!”
Yabu kenal, siapa pemilik suara itu. Dia menoleh ke belakang dan mendongakkan kepalanya untuk menatap tajam pria yang mempunyai wajah malaikat itu, “Sampai kapan kau akan mengerjaiku seperti ini?” nafasnya terdengar sangat berat karena ulah Ryosuke.
            Ryosuke tersenyum, manis sekali. Tapi bagi Yabu, itu adalah senyum yang paling licik yang pernah ia lihat. “So weak!” dia mengangkat tangan kanannya dan diarahkan pada Yabu. Seketika keluar cahaya putih kekuningan dari tangan itu yang mengarah ke tubuh Yabu. Karena cahaya itu terlalu silau, Yabu mengangkat lengannya untuk menutupi matanya. Beberapa saat kemudian, Ryosuke menurunkan tangannya dan cahaya itupun menghilang.
Yabu menurunkan lengannya, langsung berdiri dan mundur beberapa langkah “Apa yang kau lakukan?!”
Ryosuke melipat kedua tangannya di depan dada dan duduk pada kursi tranparan yang ia buat dengan cepat sehingga tubuhnya terlihat seperti melayang di udara. “Apa kau merasakannya?” tanya Ryosuke enteng.
Yabu merasakan tubuhnya kembali bugar, nafasnya teratur, dan rasa sakit di kakinya telah menghilang begitu saja. “K..Kau.. benar-benar jin!!”
Tidak merasa tersinggung, orang yang berada di depan Yabu malah tertawa kecil, “Aku tau.. aku ini mirip Jin Akanishi! Ekspresimu jangan berlebihan seperti itu! Kau membuatku malu saja..”
(-.- )( -.-) “SIAPA YANG BERKATA SEPERTI ITU????” teriak Yabu frustasi. ‘dasar setan aneh!’ ejeknya dalam hati.
Ryosuke pura-pura menutup telinganya. “Suaramu cempreng amat! Kau tuli? Akukan baru saja mengatakannya bodoh!” Ryosuke menghilang secara tiba-tiba meninggalkan Yabu yang masih duduk di tengah jalanan yang sepi itu.
‘Kemana lagi setan itu’ pikir Yabu. Dia berjalan menuju mobilnya. Kali ini dia tidak merasa keanehan lagi. Yah.. dia berhasil mencapai mobilnya. Yabu segera mengeluarkan kunci dari saku kirinya dan segera memasuki mobil. Sialnya, ketika Yabu baru saja menaruh beban tubuhnya, sosok itu kembali muncul.
“Mobilmu jelek ya! Beli yang agak bagusan kek!”
Yabu sedikit terperanjat ketika melihat tiba-tiba ada kepala yang muncul di sampingnya dan si pemilik kepala itu kembali duduk di kursi belakang. “Tutup saja mulutmu itu!” kini ia menoleh ke belakang, “Bisakah kau sedikit lebih sopan?”
Ryosuke mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dan memencet hidung Yabu, “Eits, ingat aku niichanmu. Seharusnya kau yang sopan padaku, bukannya berkata kasar begitu!” tangannya melepaskan hidung Yabu dan membetulkan duduknya.
“Tapi kelakuanmu itu selalu membuatku jantungan, apa kau tau?!” Yabu kembali menghadap depan dan segera melajukan mobilnya.
“Yang penting kau masih hidup.” Ucap Ryosuke enteng.
Yabu melirik ke belakang melalui kaca yang ada di bagian depan mobil untuk melirik Ryosuke. ‘sebenarnya dia setan seperti apa sih, kenapa ada setan yang masih memperhatikan kuku seperti itu’ terlihat olehnya Ryosuke sedang merapikan kuku-kukunya. Yabu kembali memfokuskan pandangannya ke depan.
....................................
Gomen.. sementara segini dulu ya (‘.’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar