Tittle : No Regret Life (2/... .)
Author : Hikari Natsumi (aku ndiri)
Categories : Multichapter
Rating : PG 15 (nggak tau kaya’ beginian,
tinggal tulis aja XD)
Genre : Romance, Mystery, Angst, AU,
Fluffy (nggak menjamin).
Cast :
Kota Yabu (HSJ), Kei Inoo (HSJ), Akayama Raikha (Rainukha Inoo), Hikari Natsumi
(author ikut nampang), Ryutaro Morimoto (Hey! Say! JUMP) OC OC lainnya J
Disclamer : Kota Yabu, Kei Inoo, Ryutaro Morimoto
milik Tuhan, bapaknya, emaknya, dan eyang Jojon. Setengah dari Kei punya Author
(‘.’) *dibakar masa*, Akayama Raikha milik Tuhan, emak dan bapaknya. Hikari
Natsumi milik Tuhan, emak dan bapaknya. OC OC juga milik Tuhan.
Synopsis :
datangnya sesuatu tak terduga yang membuat hidup pria bernama Kota Yabu ini
menjadi lebih rumit. Kebingungan karena harus memilih adiknya (satu-satunya
keluarga yang dimiliki) atau kekasihnya untuk ditinggalkan.
PART 2!!!! Tetap aku ingatkan! WARNING 1 !! TYPO, kata-kata ancur,
alur nggak jelas, cerita nggak merasuk di hati, penghayatan yang menyedihkan
(ancur maksudnya),,, WARNING 2
kejang-kejang saat membaca karya awal yang masih berantakan. Hai.. douzoooo !!
selamat membaca ^^
Tanggal
01 MEI
“Kouchan!!”
“Raichan?” bisik pemuda jangkung
yang terbangun dari tidurnya.
“Kouchan! Tasukete!”
Pemuda itu membuka matanya dan
melihat ke segala arah, dia bangkit dari tumpukan dedaunan kering yang
sedaritadi ditidurinya. ‘Dimana ini?’ pikirnya.
“Kouchan?!”
Merasa seperti mendengar suara, pemuda itu langsung mencari
darimana suara tersebut berasal. “Raichan?”
“Kouchan!! Onegai! Tasukete!
Tasukete kudasai!”
“Raichan?!!” dia berlari kesegala
arah, dan kembali memudarkan pandangannya. Namun, sejauh mata memandang yang
dia lihat hanyalah pohon-pohon sakura yang lebat. Yabu kembali berlari dan
meneriakkan sebuah nama. Dia berhenti di depan pintu yang tampak menyinarkan
cahaya di sela-selanya. “Raichan?” Yabu membuka pintu itu dengan perlahan dan
melihat tiga orang yang sama-sama memakai pakaian putih dan bercahaya.
“Raichan?! Kemarilah!”
“Kou..” muncul raut ketakutan dari
sang pemilik suara. Matanya terlihat sembab, terlihat jelas terdapat bendungan
kecil air mata di sana yang membuat mata gadis itu menjadi lebih indah, namun
tidak untuk pria yang sekarang berdiri di depannya. Wajahnya pucat pasi.
Tubuhnya sedikit terguncang karena isakan kecil yang dia keluarkan. Sedikit
demi sedikit buliran air mata yang bening mulai turun ke pipinya.
“Raichan?!” Yabu melangkahkan
kakinya, mendekat dan mendekat. Namun, ada
kilatan cahaya yang tiba-tiba saja membuatnya terpental ke tanah. Buugghh!!
“Arrgghh!”
“Kou-nii..”
Yabu mencengkram lengannya yang
terasa sangat sakit, dan mendongakkan kepalanya. “Hikka?!”
Hikari tersenyum dan melemparkan
sebuah kalung ke arah Yabu. “Aku mau pinjam neechanku dulu ya!” Hikari
mengenggam erat tangan Raikha dan orang yang ada di sebelah kirinya. “Niichan,,
ikou!”
Lelaki yang dimaksud Hikari
mengembangkan senyumnya ke arah suara yang memanggilnya ‘niichan’ itu.
Senyumnya mengatakan seperti apa yang dia inginkan, akan segera didapatkannya.
“Sayonara!” ucap Raikha yang dalam
sekejap telang hilang bersama Hikari dan Ryosuke.
“Raichan! Raichaann!!!
RAICHAAAANN!!!!!”
#Yabu POV
“RAICHAAAANN!!!!!” aku bangkit dari
tempat tidurku dengan nafas yang berat. ‘hanya mimpi!’ batinku. Tubuhku penuh
dengan keringat, sampai baju dan rambutku terasa basah. Badanku terasa sakit
semua. Kupegang kepalaku yang terasa pening. Apakah karena kelelahan? Aku
beranjak dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi. Kumasukkan tubuhku
ke dalam bathup yang telah berisi air hangat. Aahhh~!! Nyaman sekali. Kupejamkan
mataku untuk merasakan sensasi air panas yang menyelimuti setiap inci dari kulitku.
Kutenggelamkan kepalaku, mencoba untuk menghilangkan penat dalam pikiranku.
Dan...... “Raichan?!!!” aku menyembulkan kepalaku dari air dan mengusap wajahku
berkali-kali. Aku melihat wajah gadis yang kucintai di dalam bathup? “Aku
benar-benar sudah gila!”.....................
Kurapikan tempat tidurku yang
terlihat sangat berantakan. “Apa yang terjadi padamu tadi malam Kou?” tanyaku
pada diri sendiri. “Itai!! Sakiitt!!” tiba-tiba saja aku merasakan ada yang
menusuk kakiku, kulihat ke bawah dan... “I..i..itu! kalung itu!”
#Author POV
Yabu mengulurkan tangannya untuk
mengambil benda yang melukai kakinya tadi. Tangannya bergetar dan pikirannya
berkecamuk. ‘Hikka? Ini kalung yang diberikan Hikari dalam mimpiku. Tapi mana
mungkin?’
Trust! Believe! My Future!
Trust in my way
Don't looking back
Reading the wind
Never give up
Taiyou wo tsukamu you ni
Kakageta kono te de
Trust in my way
Don't looking back
Reading the wind
Never give up
Taiyou wo tsukamu you ni
Kakageta kono te de
Yabu tersadar dari lamunannya dan
segera meraih ponsel yang ditaruhnya di atas meja tadi malam. “Moshi moshi”
“KOTA YABU!!! Sampai kapan kau akan
mengingkari janjimu??!!” teriak orang yang menelfon tadi.
Yabu sedikit membuat jarak antara
telinga dan telfonnya untuk menghindari rusaknya gendang telinga
“Ma..maksudmu?”
“Sebenarnya ada apa denganmu? Kau
itu sudah seperti orang yang sedang dihantui saja!”
“Aku memang sedang dihantui, Inoo.”
Ucap Yabu dengan nada pelan yang seharusnya tidak dapat didengar oleh temannya.
“HA? APA? Kau apa tadi? Dihantui?”
“Eh, betsuni! Aku akan ke sana
sekarang!” Yabu mematikan ponselnya dan segera merapikan tempat tidurnya lagi.
<<<<<........................................................................................>>>>>
Seorang gadis berhenti tepat di
depan sebuah kursi taman. “Inoo?!” ucap gadis itu kepada pria yang sedang menikmati
buble teanya.
Merasa namanya dipanggil, Kei
mendongakkan kepalanya dan meninggalkan permainan ‘NOVA’ yang sedaritadi
dimainkannya. “Raichan?! Kenapa kau ada di sini? Ah.. apa kau mau membeli
beberapa snack di toko seberang sana?” terka Kei.
Gadis itu memiringkan kepalanya.
“Katanya kau mau menjaga Hikkachan di rumah sakit, lalu apa yang kau lakukan di
sini?”
Lelaki yang diajak bicara itupun
ikut memiringkan kepalanya. “Justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu!
Tadi kau bilang, kau sedang di rumah sakit, makanya aku ke sini untuk bertemu
dengan Yabu.”
“Apa maksud_”
“HEI, KALIAN !!!”
Mereka berdua mennoleh ke arah yang
sama, terlihat Yabu yang sedang berlari ke arah mereka. “Gomen Inoo, aku
telat!” pria jangkung itu berusaha mengatur nafasnya yang berat setelah berlari
cukup jauh. “Raichan?!”
“Kou? Kenapa kau berlari seperti
itu?” Raikha menghampiri Yabu dan memberikan sebotol air putih. “Ini,
minumlah!”
“Arigatou” setelah selesai minum,
Yabu menyeka keringat di dahinya. “Huh, melelahkan sekali! Tadi, saat aku
berangkat ke sini, tiba-tiba mobilku berhenti dengan sendirinya.”
“Mogo’?”
“Bukan. Entahlah aku tidak tau.
Mesinnya baik-baik saja dan bensinnya juga masih penuh. Tidak ada kesalahan
sama sekali. Dan daripada aku kena
omelanmu, aku meninggalkan mobilku dan berlari ke sini. Ngomong-ngomong, kalau
kalian berdua di sini, siapa yang menjaga Hikari?” Yabu duduk di samping Kei
sambil menyeka keringat di lehernya.
“Dia!” jawab Kei dan Raikha
bersamaan. Kei menunjuk tepat di depan wajah Raikha, dan Raikha menunjuk tepat
di depan hidung Kei. Hal itu cukup untuk membuat Yabu mengernyitkan dahinya.
“Kenapa aku? Kau yang mengatakan
akan menjaga Hikari!”
“Tapi kau menelfonku dan mengatakan
kalau kau sudah ada di rumah sakit!” sahut Kei tidak mau kalah.
“Apa maksudmu? Aku tidak
menelfonmu.” Kata Raikha sedikit emosi. “Kau yang berkata seperti itu
kepadaku.”
“Kapan aku mengatakannya?”
“Kau memang tidak mengatakannya,
tapi kau mengirimiku email!”
“Aku tidak pernah mengirimimu
email!_”
“AAAAA YAMETE!!!!” teriak Yabu yang
menerlentangkan tangannya ke arah Raikha dan Kei. “Apa maksud kalian? Kalau
kalian tidak melakukannya lalu siapa?”
“Aku
yang melakukannya”
“Iya. Aku tau kau, tapi kau siapa?”
tanya Yabu lagi.
Kei dan Raichan berpandangan
sejenak. “Dia bicara dengan siapa?” gumam mereka bersamaan.
“Kenapa kalian diam?” kata Yabu
setengah berteriak.
“Kau bicara pada siapa Kou?”
‘Hah? Lalu tadi yang bicara siapa?’
batin Yabu.
“Kenapa wajahmu tegang? Hei, kau
kenapa?” tanya Kei yang masih memegangi buble tea-nya.
Perlahan, tubuh Yabu menengok ke
belakang. ‘Apa jangan-jangan...’ mata Yabu membulat sempurna saat mendapati Ryosuke
yang tersenyum manis ke arahnya dan dengan cepatnya, sosok itu menghilang. Yabu
segera berlari ke tempat dimana dia melihat Ryosuke dan terus mencari sosok itu
disekelilingnya. Kei dan Raikha hanya saling menatap dalam kebingungan atas tingkah
laku Yabu. Beberapa saat kemudian, dia kembali ke tempat Raikha dan Kei
berdiri.
“Cepat kembali ke rumah sakit! Ada
sesuatu yang harus kulakukan.” Jelasnya dengan raut wajah khawatir.
“Kou... kau kenapa?” Raichan
menghampiri kekasihnya dan menggenggam erat tangannya. Dia menyadari ada hal
yang tak beres.
“Tenanglah! Semuanya akan berakhir dengan
segera Raichan. Aku berjanji!” ucap Yabu sambil tersenyum, dia tidak ingin
membuat Raikha khawatir. Kemudian, dia mendaratkan kecupan lembut di kening kekasihnya
dan pergi ke tempat mobilnya diparkir. Kei yang melihat kepergian Yabu merasa
ada sesuatu yang besar yang akan menimpa kekasihnya yang sekarang sedang
terbaring di rumah sakit, langsung menarik tangan Raikha dan berlari bersama
menuju rumah sakit.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Raikha yang
sesekali menatap ke arah Kei dan jalanan tempat mereka berlari. Kei mengacuhkan
pertanyaan Raikha dan lebih fokus untuk mempercepat langkah kakinya menuju
rumah sakit.
Sementara itu, lelaki yang tadi mendapat bisikan ghoib dari
si bontot terus berlari menuju tempat mobilnya tadi. ‘Apa jangan-jangan...’
. pikirannya berkecamuk, takut, sedih, bingung, khawatir, itulah yang ia
rasakan. Setelah kurang lebih setengah jalan berlari, Yabu melihat mobilnya
yang masih bertengger manis di tepi jalanan yang sepi. Dia berhenti sejenak
untuk mengatur nafasnya. Setelah dirasa cukup, dia berlari kecil menuju
mobilnya. Lama dia berlari, namun dia tidak kunjung sampai ke mobilnya. ‘kenapa
jauh sekali, padahal tadi jaraknya dekat!’ keluhnya sampil menyeka peluh yang
telah bercucuran dari tadi. Dia melanjutkan larinya, kali ini dia melangkahkan
kakinya dengan cepat, namun setelah beberapa menit berlari, dia tetap belum
bisa menjangkau mobilnya.
Dia berhenti sejenak karena hampir kehabisan nafas. “KKUUSSOOOOOOO!!!!!”
dia berteriak dan terus berlari ke arah mobilnya yang MENURUTNYA masih tediam
manis di sana. Beberapa menit kemudian, Yabu tersungkur di jalanan yang sepi
tempat mobilnya diparkir dengan nafas terengah-engah, dengan wajah yang kusut
pula. ‘Ini pasti kerjaan setan itu!’ ucapnya dalam hati. Yabu berusaha untuk
bangkit, namun kakinya terasa sangat berat untuk digerakkan, dia menyerah. Yabu
berusaha untuk duduk sambil memegangi kakinya yang mungkin sudah terserang
pegal linu akut.
“SAMPAI KAPAN KAU AKAN MENYIKSAKU?” teriak Yabu yang sudah
mulai habis kesabarannya. Dia tahu, semua ini kerjaan setan yang selalu
membuntutinya. Tiba-tiba ‘pak, pak, pak!!’ terdengar suara tepukan tangan yang
dirasa mengejeknya.
“Padahal aku hanya bermain dengan cara ringan. Tapi, kenapa
kau langsung menyerah begitu saja? Kau begitu lemah! Jika kau lemah seperti
ini, bagaimana kau bisa melindungi Raichan? Tsk tsk tsk adikku benar-benar
memilih orang yang salah!”
Yabu kenal, siapa pemilik suara itu. Dia menoleh ke belakang
dan mendongakkan kepalanya untuk menatap tajam pria yang mempunyai wajah
malaikat itu, “Sampai kapan kau akan mengerjaiku seperti ini?” nafasnya
terdengar sangat berat karena ulah Ryosuke.
Ryosuke
tersenyum, manis sekali. Tapi bagi Yabu, itu adalah senyum yang paling licik
yang pernah ia lihat. “So weak!” dia mengangkat tangan kanannya dan diarahkan
pada Yabu. Seketika keluar cahaya putih kekuningan dari tangan itu yang
mengarah ke tubuh Yabu. Karena cahaya itu terlalu silau, Yabu mengangkat
lengannya untuk menutupi matanya. Beberapa saat kemudian, Ryosuke menurunkan
tangannya dan cahaya itupun menghilang.
Yabu menurunkan lengannya, langsung berdiri dan mundur
beberapa langkah “Apa yang kau lakukan?!”
Ryosuke melipat kedua tangannya di depan dada dan duduk pada
kursi tranparan yang ia buat dengan cepat sehingga tubuhnya terlihat seperti
melayang di udara. “Apa kau merasakannya?” tanya Ryosuke enteng.
Yabu merasakan tubuhnya kembali bugar, nafasnya teratur, dan
rasa sakit di kakinya telah menghilang begitu saja. “K..Kau.. benar-benar
jin!!”
Tidak merasa tersinggung, orang yang berada di depan Yabu
malah tertawa kecil, “Aku tau.. aku ini mirip Jin Akanishi! Ekspresimu jangan
berlebihan seperti itu! Kau membuatku malu saja..”
(-.- )( -.-) “SIAPA YANG BERKATA SEPERTI ITU????” teriak Yabu
frustasi. ‘dasar setan aneh!’ ejeknya dalam hati.
Ryosuke pura-pura menutup telinganya. “Suaramu cempreng amat!
Kau tuli? Akukan baru saja mengatakannya bodoh!” Ryosuke menghilang secara
tiba-tiba meninggalkan Yabu yang masih duduk di tengah jalanan yang sepi itu.
‘Kemana lagi setan itu’ pikir Yabu. Dia berjalan menuju
mobilnya. Kali ini dia tidak merasa keanehan lagi. Yah.. dia berhasil mencapai
mobilnya. Yabu segera mengeluarkan kunci dari saku kirinya dan segera memasuki
mobil. Sialnya, ketika Yabu baru saja menaruh beban tubuhnya, sosok itu kembali
muncul.
“Mobilmu jelek ya! Beli yang agak bagusan kek!”
Yabu sedikit terperanjat ketika melihat tiba-tiba ada kepala
yang muncul di sampingnya dan si pemilik kepala itu kembali duduk di kursi
belakang. “Tutup saja mulutmu itu!” kini ia menoleh ke belakang, “Bisakah kau
sedikit lebih sopan?”
Ryosuke mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dan memencet
hidung Yabu, “Eits, ingat aku niichanmu. Seharusnya kau yang sopan padaku,
bukannya berkata kasar begitu!” tangannya melepaskan hidung Yabu dan
membetulkan duduknya.
“Tapi kelakuanmu itu selalu membuatku jantungan, apa kau
tau?!” Yabu kembali menghadap depan dan segera melajukan mobilnya.
“Yang penting kau masih hidup.” Ucap Ryosuke enteng.
Yabu melirik ke belakang melalui kaca yang ada di bagian depan
mobil untuk melirik Ryosuke. ‘sebenarnya dia setan seperti apa sih, kenapa ada
setan yang masih memperhatikan kuku seperti itu’ terlihat olehnya Ryosuke
sedang merapikan kuku-kukunya. Yabu kembali memfokuskan pandangannya ke depan.
....................................
Gomen..
sementara segini dulu ya (‘.’)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar